Putu tidak hanya menampilkan panorama Jatiluwih sebagai lanskap ideal, tetapi juga sebagai medan pergulatan laten berbagai kekuatan antara tradisi dan modernitas, spiritualitas dan ekonomi, kelestarian dan eksploitasi. Dengan membenturkan unsur abstrak dan realistis, lukisannya menyampaikan bahwa pelestarian warisan budaya sering berhadapan dengan realitas sosial-ekonomi yang tidak mendukung.
Meskipun demikian, karya Putu tetap menyalakan harapan akan masa depan yang lebih cerah. Warna-warna terang yang menyusup di sela bidang gelap melambangkan daya tahan, optimisme, dan potensi revitalisasi alam dan budaya tradisional. Lukisannya mengajak penonton untuk mengapresiasi getar keindahan lanskap alam dan budaya Jatiluwih sekaligus merenungkan situasi kompleks yang melingkupinya.
Melengkapi seri lukisan mutakhirnya, Putu membuat video yang menampilkan dirinya melukis di hamparan sawah terasering Jatiluwih saat matahari terbit. Dalam video ini, ia berkolaborasi dengan komposer Ary W. Palawara. Suara magis dan gerak tubuh berpadu dengan visualisasi proses kreatif Putu, membentuk pengalaman imersif yang memperluas pemahaman tentang lukisannya. Video ini menegaskan bahwa proses kreatif Putu tidak berhenti pada kanvas. Proses itu meluas ke medium suara, waktu, dan ruang, memperlihatkan transformasi panorama alam dan lanskap budaya menjadi karya lukis abstrak yang sarat pesan spiritual-filosofis.
Original Soundtrack & Performance Collaboration
PALAWARA MUSIC COMPANY
Musik Komposer: Ary Wijaya
Talent Management: Made Satria
Koreografer : Kevin Muliartha
Palawara Choir Talents: Indira Chintya, Ericha, Mang Anom, Kanya Winda, Lyra Winda, Janita Devi, Gek Yoni, Hari Candana, Kevin Muliartha, Widz Antazura
Kru : Govin, Lanang